Senin, 19 Maret 2012




Eits mimpi yang saya maksud di sini bukan mimpi diwaktu kamu tidur ya. Hehehe.. Lebih tepatnya ini mengenai impian. Tau gak apa bedanya mimpi dan impian? Kalau menurut saya nih, mimpi itu lebih tepatnya dinamakan “bunga tidur”, sesuatu yang ada dalam imajinasi kita tanpa sadar.

            Nah, kalau impian itu merupakan sesuatu yang kita pikirkan, lakukan, rasakan secara sadar. Ibaratnya gini, pernah nggak merasakan suka sama seseorang? Pengennya dekat terus sama si Dia? Jantung Dag dig Dug saat di dekat Dia? Sampai lupa makan dan minum gara-gara si dia? Hayooo ngaku!!! Oooh itu namanya cinta ya.. hhehe..

            Eh jangan senyum-senyum dulu. Sekarang kita kembali ke Laptop, Uuppzz.. kembali ke topik maksudnya.. hehhee.. jadi impian itu rasanya seperti jatuh cinta, pengeeeen banget, pokoknya kita ngotot banget harus itu, saat kita mendengar orang lain telah memiliki apa yang ingin kita miliki, kuping kita pasti panas banget juga ingin sukses seperti mereka. Jadi, intinya gini Impian itu adalah sesuatu yang membuat kita terus berjuang sampai titik darah penghabisan *berasa semangat 45 yah!! 
“Keep Fighting!”, “Never Give Up!” Waaaw itu adalah beberapa kata yang dimiliki oleh sang Dreamer. Mereka punya rencana hebat, sikap yang sempurna, dan integritas yang tinggi. Tak ada kata menyerah bagi seorang pejuang sejati. Ketika mereka gagal, mereka akan bangkit, mencoba lagi, gagal lagi! Bangkit lagi! Gagal lagi! Bangkit lagi! Begitulah seterusnya hingga mereka bisa berada di puncak yang namanya “KESUKSESAN”.


            So, kalian juga punya impian bukan? Ayo apa impian mu? Segara tuliskan impian mu di selembar kertas putih kosong. Jangan lupa buat deadline nya juga. Bacalah berulang-ulang setiap hari. Setelah itu berusahalah untuk mewujudkannya.


Ingat!!! Tiada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau. Intinya “MAU”. Lakukan apapun yang sesuai dengan passion kamu. Maka kamu akan merasakan indahnya proses kesuksesan itu. Hargailah proses karena sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama. Mulailah dengan satu langkah pertama, karena satu langkah pertama itu sangat berarti ketika kamu sudah berada di ke-1.000.000 langkah hidup mu. Action Now! Do Everything! Be the first and be the Best!.
            Nah, bagaimana sahabat? Jangan melamun lagi, lakukan sesuatu untuk agama mu, orang tua mu, bangsa dan negara mu! Dunia menunggu kamu untuk menjadikannya lebih baik. Ciptakanlah sebuah sejarah yang tidak akan dilupakan dunia. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini dengan sia-sia. Buatlah semua mata tertuju padamu!
Tunggu apa lagi?
Created Nurmulya Sapittri

Minggu, 19 Februari 2012



Pagi menyambut hari, ayam mulai berkokok. “Rahmat!! Bangun Adikku tercinta. Udah pagi lho, hari ini hari senin, nanti telat sekolah”.
            hoam!! Huft, selalu begini suasana tiap pagi. Buru-buru ku antar adik ke kamar  mandi. Adikku yang kecil ini baru berumur 7 tahun. Kadang-kadang lucu, dan kadang-kadang lebih sering menyebalkan.
            Seperti biasa ku lami tiap hari sesuai dengan target harian ku, bukan maksud untuk mendiktator diri ku sendiri, hanya berusaha untuk selalu disiplin. Kulakukan karena aku orang paling susah disiplin. Mungkin kalau ada kontes “Miss Non Discipline” aku adalah orangnya.
            Hmm... ku lirik jam dinding, pukul 06.00 pagi, saatnya mencuci piring dan menyapu. Memang kelihatan pakerjaan yang simple bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Bila aku tidak menyapu pagi-pagi begini, aku tak akan punya waktu lagi. Jam 07.00-01.30 p.m. aku akan sibuk dengan aktivitas sekolah dan sorenya les, terus malam nya harus  mengaji dan menyelesaikan PR lagi.
            Tepat jam 07.00, aku berangkat sekolah, kadang jalan kaki atau diantar Ayah. Tapi kalau boleh jujur, aku lebih senang jalan kaki santai sambil menikmati embun pagi dan nyanyian  burung. Tapi jalan kaki hanya bisa ku lakukan kalu aku tidak selalu menunda kedisiplinanku. Mungkin kalau parameter 100%, aku aku berada pada 20% untuk tingkat kedisiplinan. Minim sekali bukan???
            Daaan.. karena hari ini lumayan tidak disiplin atau bisa dikatakan nakal dalam berdisiplin.. hehhe.. aku memilih diantar ayah ke sekolah bareng adik tercinta.

Kamis, 16 Februari 2012


“Kring.. Kriiing..” Telepon rumah ku berbunyi. Buru-buru ku menuruni tangga. “Assalamualaikum”. Sapaku sambil mendekatkan gagang telepon ke telingaku. “wa’alaikum salam, ukhti hari ini kita ada rapat di kampus.
Astghfirullah, saya lupa. Iya sekarang saya segera berangkat!” Aku mengelus-ngelus dadaku.
Segera ku belari ke atas lagi menuju kamar ku kembali. 10 menit kemudian aku sudah berada di halte bus yang bisa mengantarkan ku ke kampus ku. Hari ini aku merasa sangat beruntung. Bus yang kutunggu pun akhirnya tiba.
“bruuuk!!” buku yang kupegang berhamburan. “Astagfirullah “,  maaf ukhti saya tidak sengaja, maaf saya tadi buru-buru”.
Aku segera memunguti buku ku yang berjatuhan.
“Ya akhi, tidak apa-apa, saya juga jalan terburu-buru”. Lelaki itu juga membantu ku memunguti bukunya yang bercampur dengan buku ku. Sekilas aku bisa melihat title bukunya “Oxford Dictionary”.
“Oh, rupanya dia anak sastra Inggris. Atau mungkin Bule nyasar di Aceh..hehe tapi dia mirip orang Indonesia sih”. Aku senyum- senyum sendiri.
“Ukhti.. Ukhti..! Ini bukunya”. Ujarnya mengagetkan ku.  Tuhan  aku jadi salting.
“iya, syukran Akhi”. Huh aku berharap dia tidak memperhatikan ku tadi.
Segera ku naik ke bus, dia pun mengikuti ku dari belakang .

***

 “Huh” kelepaskan napas lega . Akhirnya aku sampai di depan pintu gerbang kampusku, setelah 15 menit sesak napas di dalam bus yang penuh asap rokok tadi.
“Assalamu’alaikum ”. Seseorang menyapaku dari belakang.
“Wa’alaikum salam”. Aku membalikkan arah badan ku. Aku terperanjat ketika melihat laki-laki tadi sudah berada di dekat ku lagi.
“Maaf Ukhti, saya mengagetkan ukhti”. Wah sepertinya dia sadar setelah melihat ekspresi ku. “Saya Cuma mau bertanya”. Lanjutnya kemudian.
“Bidang kemahasiswaan di kampus ini di sebelah mana ya?”
“Oh, itu ada di sebelah utara. Nah, di sana ada tulisannya” Aku mencoba menjelaskan.
“Oh iya. Terima kasih banyak Ukhti. Sekali lagi maaf atas kejadian tadi.”
“iya sama-sama akhi”