Minggu, 08 September 2013


Bismillah,
Ba’da tahmid wa shalawat.
Sahabat apa kabarnya nih?
Lebaran kemarin silaturahim kemana saja? Adakah yang berkunjung ke rumah guru SD nya terdahulu? Pernahkan kalian berpikir mungkin saja guru SD mu itu sudah tidak mengajar lagi, sudah pensiun, ataukah sudah tua?
Ya, berikut ini adalah sebuah cerita yang dibagikan oleh salah satu dosen ku. Ceritanya sangat menyentuh bahkan mata ku berkaca-kaca terharu mengenang kebaikan dan ketulusan ilmu yang diberikan guru SD ku terdahulu.
Dan berikut kisahnya...
***
Berkahnya bulan Ramadhan terasa sampai ke Syawal. Tiba-tiba saja aku teringat guru SD ku dahulu yang selalu sabar mengajarkan ku baca tulis dan menasehatiku saat ku berkelahi dengan temanku. Ah...aku ingin mengunjunginya, ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebaikannya.
Langsung ku ambil HP ku, Ku telpon beberapa teman ku yang mengetahui keberadaan guru SD ku itu. Namanya Darwani, tetapi sering dipanggil Bu Dar. Beliau adalah salah satu guru SD ku yang sangat dekat dengan ku. Bagaiman tidak, Dia selalu saja sabar menghadapi ku walaupun aku adalah siswanya yang paling nakal. Berbekalkan alamat yang diberikan oleh teman ku, aku langsung mencari rumah guru SD ku.
Setelah bertanya kesana-kesini, akhirnya aku menemukan alamat itu. Dia sedang duduk santai di depan rumahnya. Rumahnya masih tradisional sekali, yaitu rumah panggung “Rumoh Aceh”.
“Assalamu’alaikum”, ku sapa beliau.
“Wa’alaikumussalam” jawabnya ramah.
“ Bu apakah benar ini rumahnya bu Darwani?”, tanyaku memastikan.
“Iya, saya sendiri, Anda ini siapa ya?” tanyanya lagi.
“ Bu, saya adalah murid ibu yang dulu paling nakal di sekolah”, sengaja ku rahasiakan dulu nama ku.
“Oh begitu, kalau begitu,mari masuk dahulu, “ Ajaknya menaiki tangga Rumoh Aceh menuju serambi ruang tamu dan dipersilahkan aku untuk duduk.
Kemudian Bu Dar membawa kue-kue lebaran dan minuman kepada ku. Ku pandangi garis-garis kerutan yang kini tampak jelas di wajahnya. Bu Dar memakai jilbab, sehingga tak bisa ku tebak warna rambutnya, tapi ku yakin sudah memutih.
“Wah, Ibu masih mempertahankan rumah tradisional Aceh, apa alasan Ibu?”, Ku tanya hal ini karena aku sangat penasaran, padahal tetangga-tetangganya sudah beralih ke rumah yang lebih modern.
“Nak, ini adalah rumah bersejarah yang kaya akan hikmah, ingatkah tadi saat melewati pintu masuk, Pintu Rimoh Aceh memang di rancang lebih pendek daripada rumah-rumah yang sekarang . Ketika kita akan masuk kita harus menunduk sedikit. Itu adalah filosofi untuk menghormati orang tua”.
“Ibu juga ingin terus melestarikannya, agar anak-anak sekarang tidak lupa akan budayanya sendiri”, lanjutnya.
Perbincangan kami terus berlanjut. Diceritakannya kenakalan demi kenakalan ku terdahulu. Kami pun larut mengenangnya kembali.
“Bu, saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua ilmu yang telah Ibu berikan. Sehinnga saya telah menjadi seperti ini sekarang. Saya sekarang telah menjadi dosen dan sebentar lagi akan lanjut S-3”
“Ya Nak, Ibu akan senantiasa mendoakan mu”, Ku lihat air matannya berlinang menatapku.
Aku pun tak sanggup menatapnya lagi, ku cium tangannya untuk berpamitan. Segera ku ambil motorku, ingin ku lihat kebelakang lagi, tapi aku tak kuasa menahan haru. Akhirnya aku mengintip lewat kaca spion motor ku. Ku lihat beliau menengadahkan tangannya seperti sedang berdoa. Aku semakin terharu. Akupun melesat jauh ke jalan raya. Pertemuan yang luar biasa.
***
Menurut kalian, apa manfaat dari besilaturahim ke rumah guru-guru yang terdahulu mengajari kita?
Beberapa manfaat  yang ku dapat adalah ...
1. Guru SD adalah guru yang sanagt berjasa karena beliau lah yang pertama kali mengajarkan baca tulis.
2. Bersilaturahim ke rumah guru akan mempermudah setiap langkah kita karena doa yang diberikannya.
Oh ya, soal menjaga budaya, ya ku rasa itu harus. Kita bisa mengenal adat-istiadat kita yang penuh makna. Aku juga ingin suatau saat nanti mendirikan rumoh Aceh. Tapi, rumoh Aceh berpondasikan kayu-kayu yang lumayan besar ya. Hmm.. akan ku pertimbangkan juga agar tidak menebang pohon sembarangan (pohon-pohon yang hijau semakin berkurang sih... )
Okay, keep istiqamah aja, do the best, pray for the best, and be the best.
 Aamiin ya rabbal ‘alamiin.
Wassalammualaikum..