Kamis, 10 Maret 2016


We can always run to the sun
Perkenalkan namanya Elviyanti. Hari ini ia berumur 24 tahun, usia yang tak lagi muda bukan. Dia sahabat ku. Aku mengenalnya 22 tahun yang lalu. Kami adalah bunga yang mekar di kebun yang sama. Dia gadis paling bersemangat yang pernah ku kenal. Aku selalu bertanya-tanya, tak pernah habiskah stok energinya? Tapi karena keaktifannya inilah yang membuat ku betah berlama-lama dengannya.
Aku sangat bersyukur mengenalnya dalam hidupku. Dia segalanya bagiku. Dia bagai cahaya yang menerangi hidupku. Dia penyemangat hidupku. Ntah bagaimana aku harus berterima kasih atas semua kebaikannya. Kamu pantas dapat predikat sahabat terhebat!
Dulu saat kecil, dua malaikat itu mungkin menganggap kami kembar. Kami sering dihadiahkan baju kembar, aksesoris kembar, semua serba kembar, hanya warnanya yang dibedakan. Kalau aku dapat warna merah jambu, sahabatku ini dapat yang warna biru. Jika tidak ada yang kembar, maka motifnya yang kekembar-kembaran. Beranjak remaja, kami menemukan identitas masing. Sudah jarang kembar-kembaran. Kami sudah punya style sendiri.
Isn't it so funny the things people say?
Kami pun selalu diarahkan untuk sekolah di tempat yang sama. TK, SD dan SMP yang sama. Ketika SMA aku memilih sekolah ku sendiri. Tidak mau sama lagi. Begitupun kuliah, ditawarkan di tempat yang sama. Kali ini pendirian ku lebih kuat. Aku dengan kampus ku sendiri. Bukan tak suka selalu bersama, hanya aku punya passion ku sendiri.
Aku dan dia tumbuh jadi dua perempuan dengan sifat dan karakter yang berbeda. Aku jarang bicara, sedangkan dia paling suka mengobrol atau bercerita. Darimana pun dia pulang, dia selalu mengajak duduk sejenak hanya untuk mendengar kisah perjalanannya. Jauhnya perjalanannya tidak akan membuatnya langsung tertidur pulas, malah memilih bercerita panjang lebar. Dia enerjik sekali!
Jika dia sudah bercerita, tak akan dibiarkannya si pendengar mengabaikannya. Aku kadang dibuat pusing dengan tingkahnya yang satu ini. Sering ku mencoba cuek. Coba tebak apa yang dia lakukan. Satu, dua, tiga... ya tidak sampai pada hitungan kesepuluh, dia ikuti kemana pun aku beranjak pergi, lantas menarik lengan baju ku. Aku pun menyerah. Mari mendengarkannya sejenak.
You and me made the memories that never fade.
Dia juga tak kan pernah bosan menceritakan hal yang sama berulang-ulang kali. Ratusan kali pun. Sahabatku ini tak pernah kehabisan kata. Uniknya, tak ada yang bosan dengan ceritanya. Dia selalu punya cara untuk meyakinkan kami bahwa ceritanya super penting. Lebih penting daripada pidato presiden sekalipun!
Aku tak pernah meragukan kepintarannya. Toh sejak SD dia selalu berada di peringkat tiga besar, belum lagi juara olimpiade, cerdas-cermat, lomba pidato, baca puisi, karya tulis ilmiah, peserta jumbara nasional di Sumatera Selatan, KoorCab PMR Bireuen, dll. Ini baru rekornya di tingkat sekolah, belum lagi kala menjadi mahasiswa, IP sering 4.00, lulus S-1 dengan predikat pujian, Sekjen BEM, aktif di beberapa komunitas, aktif menulis, dll.. Yang jelas di mata ku, dia sahabat tercerdas.
Selain cerdas, dia juga pemberani. Dia selalu berani memulai melakukan hal-hal baru tanpa mempertimbangkan risikonya terlebih dahulu. Seorang diripun jadi. Tapi dia benar, kita harus berani menghadapi dunia yang tidak mengenal kompromi ini.
Kamu pejuang keras, sahabat. Aku mengerti setiap jatuh bangun mu. Katamu, “Aku ingin jadi orang hebat, Orang sukses itu berjuang keras. Sukses itu butuh pengorbanan besar.” Aku selalu terkagum-kagum dengan semangat muda mu. Impian sang pejuang sejati!
We are different kind, but we can do anything!
Kakak, begitu sering ku sapa. Semenjak dia memilih menuntut ilmu di rantau sana, kami jadi jarang bertemu. Tapi aku sudah terbiasa karena sejak sekolah menengah pertama dan atas dia sering berpergian jauh. Kala remaja pun dia punya jam terbang yang tinggi dengan segala aktifitas di Kepalang Merahan itu. Namun begitu, dia selalu bisa memeluk rindu. Saat dia pulang, dia selalu menyukseskan agenda reuni kami. Tidak ada jarak yang memisahkan kami. Karena kami terikat dengan cintaNya. No matter how less often we talk, I can always count on our friendship. Because I have a sister, I’ll always have a friend.
My dearest sister, wish you a very warm and happy birthday. You are not only the sweetnest sister but also a true friend. I feel blessed to have a sister like you. May you achieve and get all you ever wish for. And the wish to stay on the same boarding house on master degree. What country? 

With love from your youngest sister,
Lia

Tagged: , ,

0 komentar:

Posting Komentar