Jumat, 04 Maret 2016

Fotografer by Sarmila
            Rintik-rintik hujan turun menyentuh desa Gurukinayan, Karo, salah satu desa yang berjarak cukup dekat dengan gunung Sinabung, Sabtu,(18/10/2014). Saat itu Pukul 12.00 WIB, kabut tampak tebal menyelimuti sekitaran puncak sinabung.
            Beberapa laki-laki mengangkut pasir di daerah aliran sungai dengan lihai. Seorang kakek mengeruk setumpuk demi setumpuk pasir dengan alat yang terbuat dari bambu. Badannya yang  pendek dan kurus terus membungkuk tak kenal lelah.
             Laki-laki yang sudah tak berusia muda lagi itu adalah Regar (58). Ia kelahiran asli tanah Karo. Ia bermata pencaharian sebagai pengeruk pasir di aliran sungai yang berada di patokan dua seputaran gunung Sinabung. Ia masih memiliki istri yang usianya juga sudah senja sepertinya. Dari pernikahannya dengan istrinya tersebut ia dianugerahkan tiga anak.
            “Saya bekerja mengeruk pasir di aliran sungai ini hampir setiap hari. Pekerjaan ini saya geluti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri saya dan tiga anak”, Ungkapnya sambil sesekali mengelap keringat di keningnya.
            Dirincikannya, ia memiliki satu anak perempuan dan dua laki-laki. Mereka bertiga memutuskan merantau dan bekerja di luar tanah Karo. Anak sulung perempuannya yang masih SMA  memutuskan mengikuti saudaranya untuk dapat melanjutkan pendidikan. Dua anak laki-lakinya hanya memiliki pendapat pas-pasan untuk diri mereka masing-masing. Hal itulah yang membuat Regar tetap semangat mengeruk butiran pasir itu demi butiran beras di rumah sederhananya.
            “Anak-anak saya sudah merantau dan berdikari saja sudah membuat saya merasa sangat beruntung. Mereka telah menghilangkan sedikit beban saya. Sekarang, Istri adalah prioritas saya sehingga bekerja seperti ini dan mengirimkan sedikit kiriman bagi si bungsu yang masih sekolah”. Ungkapnya Bangga dengan logat Batak Karo yang kental.
            Regar juga mengungkapkan tidak akan pindah dari desa kelahirannya. Baginya apapun yang terjadi patut disyukuri dan ada hikmah di balik bencana erupsi Sinabung.
            “Saya masih kuat bertahan karena saya percaya dibalik musibah ini ada nilai-nilai untuk disyukuri. Tuhan pasti akan memerikan semua yang terbaik”, ujarnya tegas.



Abu Vulkanik Membawa Derita
            Sejak meletusnya gunung Sinabung pada Agustus 2014,  desa Gurukinayan yang dulunya bak permadani hijau telah diredupkan abu vulkanik. Bunga-bunga berkerut dan bersembunyi di balik butiran abu. Debu-debu bertebaran siap mengusik pernapasan siapapun di sekitarnya.
            “Desa saya ini dulunya sangat hijau dan udaranya segar. Tapi Erupsi Sinabung telah merengut semuanya dari kami”, Ungkapnya miris memandangi sekeliling.
            “Dulunya pasir di aliran sungai ini sangat banyak, tapi sekarang makin hari makin sedikit. Air sungainya mulai hangat dan kami pun harus antisipasi jika erupsi tiba-tiba terjadi”, Regar memperlihatkan pasir yang baru dikeruknya pada Suara Almuslim, Sabtu (18/10/2014).
            Hal senada juga disampaikan Beny, yang merupakan social worker dan anggota APPB di daerah Sinabung tersebut.
            “Gurukinayan dihuni oleh  260 Kepala Keluarga saat ini. Dulunya sampai ribuan, namun banyak yang memilih mengungsi sejak erupsi di Agustus lalu. Memang butuh usaha keras untuk bertahan di sini”, ungkapnya kepada Suara Almuslim, Sabtu (18/10/2014).
            “Dulu, sebagian besar penduduk di sini bermata pencaharian sebagai petani. Namun sekarang tidak memungkinkan lagi. Mereka sudah mengalami gagal panen beberapa kali setelah berusaha menanam di lahan bekas erupsi ini”, Ungkap laki-laki yang akrab dipanggil Bengbeng ini.
            “Regar adalah salah satu contoh betapa Sinabung membawa derita bagi penduduk pasca Erupsi. Mereka tidak memiliki kesempatan lain, selain tetap bertahan di gurukinayan. Bantuan yang diberikan pemerintah maupun relawan tak cukup mengangkat derita mereka. Harapan kita bersama adalah aktivitas sinabung kembali normal sehingga warga terbebas dari derita”, Ujarnya saat Suara Almuslim menceritakan kisah kakek Regar.

Feature Pena Persma 2014

Tagged: ,

0 komentar:

Posting Komentar